Mengelola keuangan terutama bagi pasangan yang sudah menikah tentunya berbeda dengan ketika masih single. Bagi pasangan yang sudah menikah pun prinsip pengeloaan keuangan bisa jadi berbeda. Setidaknya usia pernikahan mempengaruhi perilaku dalam pengeloaan keuangan keluarga. Bagi Anda yang sudah menikah ada baiknya mengetahui bagaimana pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan bagi pasangan yang sudah menikah bukan soal pemasukan dan pengeluaran. Tetapi ada hal lebih besar yang harusnya dipikirkan dan direncakan.

Setidaknya ada empat fase pengelolaan keuangan bagi pasangan yang sudah menikah. Terutama ditinjau dari usia pernikahan yang sedang dijalani. Pertama adalah mereka yang baru saja menikah dan usia pernikahnnya kurang dari dua tahun. Fase kedua adalah pasangan yang telah menikah antara dua hingga 8 tahun. Fase selanjutnya adalah pasangan yang sudah menikah lebih dari 8 tahun hingga 15 tahun. Sedangkan fase terakhir adalah yang sudah menikah lebih dari 20 tahun. Tiap fase pernikahan memiliki ciri dan pengaturan keuangan yang berbeda. Tentunya, perencanaan dan implementasi keuangannya juga berbeda. Yuk, kita bahas tiap fase pengelolaan keuangan keluarga dilihat dari usia pernikahan.

4 Fase Mengatur Keuangan Keluarga

Fase Pertama – Usia Pernikahan < 2 Tahun (Awal Pernikahan)

Usia pernikahan yang masih muda biasanya akan penuh dengan bumbu-bumbu cinta. Jika ada waktu luang, ada uang bonus, tak akan pikir panjang langsung liburan. Seolah olah bulan madu ingin diulang ulang terus. Tetapi saat usia pernikahan inilah masa adaptasi dan pembagian tugas pengelolaan keuangan dimulai.

Sudah saatnya antar pasangan membagi tugas siapa yang akan membayar tagihan, membagi anggaran, memilih instrumen investasi, dan membangun dana darurat. Dana darurat serta instrumen investasi perlu dipersiapkan dengan serius. Kuncinya ada di pola komunikasi dan bagi tugas mengelola keuangan. Anggap saja ini fase pembelajaran yang harus dilakukan. Jika tidak, maka bisa jadi keuangan keluarga saat usia pernikahan masih baru akan berantakan.

Fase Kedua – Usia Pernikahan 2 – 8 Tahun (Keluarga Muda)

Fase kedua adalah menjadi keluarga muda. Saat ini biasanya pasangan yang suda menikah memiliki anak. Karena sudah memiliki anak, maka pengeluaran pasti bertambah. Mengatur keuangan bisa jadi akan lebih sulit terutama jika dimasa awal pernikahan belum terbiasa mengatur dengan rapi. Keinginan untuk hidup hemat terus digaungkan, namun keinginan untuk berbelanja dan liburan juga tak kalah besar. Pengaturan keuangan harus lebih detail, karena pada fase ini ada banyak kebutuhan keuangan yang harus disiapkan.

Persiapan keuangan yang pertama tentunya adalah persiapan biaya pendidikan anak. Usia anak bisa jadi baru melangkah 3 tahun, tetapi jangan berpikiran uang pangkal masuk SD masih lama. Ingat ada faktor inflasi yang membuat biaya pendidikan akan semakin besar. Jika tidak disiapkan dari 3 tahun sebelumnya, Anda dan pasangan akan kelabakan.
Jangan lupakan juga untuk mempersiapkan hunian tempat tinggal. Memang harga rumah akan cenderung naik. Fokuskan saja dulu untuk mempersiapkan uang muka pembelian rumah (down payment) sebesar 30 persen. Tambahkan juga faktor inflasi kenaikan harga rumah sehingga tujuan keuangan untuk bisa memiliki rumah bisa tercapai.

Fase Ketiga – Usia Pernikahan 8 – 15 Tahun

Pada fase ketiga, Anda dan pasangan bisa jadi berada pada fase puncak karir. Ya, posisi top management bisa jadi sedang ada dalam genggaman Anda. Pada fase ini, memperbesar porsi investasi adalah pilihan bijak. Jika memungkinkan lunasi hutang yang masih dimiliki. Hindari menambah hutang konsumtif dan tetap jaga cash flow positif keuangan Anda.

Fase ini cenderung membuat seseorang terlena dengan kondisi keuangan yang mapan. Sehingga bisa menambah pengeluaran yang tidak produktif. Lebih baik pada saat ini mulai menghitung jumlah investasi serta memikirkan bagaimana mengubah sebagian nilai investasi tersebut menjadi aset pasif. Misalnya membangun bisnis, membeli franchise, atau membeli tanah dan membangunnya menjadi kontrakan. Jika membutuhkan tambahan modal, asalkan untuk hal-hal yang produktif Anda tidak perlu ragu. Asalkan tetap hitung kondisi keuangan dan risiko dari rencana bisnis tersebut.

Fase Keempat – Usia Pernikahan > 20 Tahun

Jika pada fase sebelumnya Anda mempersipkannya dengan baik, maka pada fase ini bersiaplah untuk memetik hasilnya. Jika nilai invetasi Anda sudah cukup besar, ada baiknya dibelikan Obligasi Ritel dan kupon/bunga yang didapat bisa untuk biaya hidup. Jika punya bisnis dan sudah berjalan dengan baik, bisa terus dikembangkan saat Anda benar benar pensiun dari pekerjaan Anda. Pun demikian dengan kontrakan atau rumah kost yang dipersiapkan sebelumnya.

Pada fase ini Anda akan lebih mudah mengatur keuangan karena usia anak Anda sudah mulai bekerja secara mandiri. Salah satu tugas Anda, adalah memberikan pelajaran penting bagaimana mengelola keuangan sehingga anak-anak Anda memiliki pengetahuan yang mumpuni.

Jangan berkecil hati jika Anda dan pasangan berada disalah satu fase diatas namun belum mempersiapkan segalanya. Segera gunakan waktu untuk berubah dan mengejar tujuan keuangan Anda.

Baca Juga : Gaji Karyawan