Apakah sudah kamu membuat resolusi tahun baru untuk 2022 yang lebih bagus? Ini kali, Universitas Psikologi punyai panduan buat kamu yang ingin tingkatkan kekuatan sosial, satu diantaranya jadi lebih asertif.

5 Panduan Jadi Orang yang Lebih Asertif

Walau topik ini kali lebih mengarah ke dunia kerja, jadi asertif bukan hanya berlaku di kehidupan professional, tetapi di kehidupan setiap hari.

Awalnya, apa asertif itu? Menurut Dale Carnegie, beberapa orang yang asertif ialah beberapa orang yang sanggup menantang penekanan dan supremasi beberapa orang agresif, bela kepercayaan individu, dan menahan diri pada kondisi penting. Mereka tidak gampang diakali atau dikendalikan seseorang.

Table of Contents

– Contoh Kasus
– Contoh Kasus #1
– Contoh Kasus #2

– Langkah Jadi Orang Yang Lebih Asertif
– 1. Kenali bukti mengenai keadaan dan kuasai
– 2. Mengantisipasi sikap seseorang dan persiapkan tanggapan
– 3. Persiapkan pertanyaan memeriksa
– 4. Memperuncing Reaksi pada Beberapa orang Manipulatif
– 5. Percayalah pada Kekuatanmu Sendiri

Contoh Kasus

Saat sebelum masuk ke tips-nya, coba kita bandingkan ke-2 contoh kasus berikut ini:

Contoh Kasus #1

Lintang ialah pegawai baru di kantornya. Tetapi, kisah hidupnya di kantor tidak begitu membahagiakan. Dalam kurun waktu dua minggu bekerja, dia telah hadapi dengan pekerjaan dan tugas yang bebannya memperberat. Dia kerap berasa jemu di kantor, pulang pada kondisi hampir tidur di atas motor, dan ketahuan melamun saat bekerja.

Keproduktifan Lintang juga lama-lama semakin turun. Lintang juga ke psikiater untuk memperoleh pencerahan atas permasalahannya. Psikiater itu sampaikan jika Lintang punyai kecondongan untuk berlaku terlampau permisif, hingga dia gampang diminta-suruh oleh partnernya kerjakan sisi project yang tidak sesuai dengan jobdesc, walau sebenarnya jam kerja Lintang terhitung padat.

Untuk Lintang, menampik tugas yang tiba akan membuat kelihatan tidak produktif, tetapi dia tidak ingin terang-terangan jika dia berasa capek. Pada akhirnya, dalam kurun waktu tiga bulan bekerja, Lintang memilih untuk resign.

Contoh Kasus #2

Galuh ialah rekanan kerja Lintang, tetapi berlainan seksi. Dia kerap memperoleh penawaran dari atasannya untuk ambil project yang memungkinkan menambahkan bonus dari lembur. Tetapi, Galuh selalu menampik beberapa proyek itu, dengan argumen jika agendanya sangat padat. Sehari-harinya, dia cuman punyai waktu 30 menit untuk istirahat, yaitu waktu makan siang dan sesudah break ke-2 jam 15.00 WIB.

Apa lagi, Galuh punyai anak wanita yang harus diantarkan jemput sekolah dan didampingi mengolah PR. Atasan Galuh masih coba merayu dengan tawarkan bonus di luar lembur, tetapi Galuh masih menampik. Untuknya, beberapa proyek itu bukan hanya akan memerlukan waktu berkualitas dengan anaknya, tetapi waktu me time dan meningkatkan kekuatan di bagian lain, yaitu berwiraswasta dalam suatu situs berbelanja online.

Dari ke-2 kasus di atas, kita dapat memandang jika Galuh lebih asertif dibanding Lintang, karena Galuh tidak sangsi menampik tugas yang memperberat untuk quality time dengan anak dan dirinya. Jadi asertif tidak berarti tutup diri, tetapi membuat perlindungan fokus kita dari beberapa hal yang dapat memberikan ancaman wellbeing kita.

Langkah Jadi Orang Yang Lebih Asertif

Maka bagaimana triknya jadi orang yang lebih asertif?

1. Kenali bukti mengenai keadaan dan kuasai

Coba pikirkan jika kamu ada di status Lintang dan Galuh. Sebagai pribadi yang kerap didesak dengan tugas dan atasan, kamu akan memperoleh status yang kurang nyaman. Itu kenapa penting untuk kamu untuk cari tahu keadaan yang terjadi dan menguasainya.

Cari tahu keadaan ini dapat dengan bertanya ke rekanan kerja, misalkan berapa penting tugas itu, atau ke atasan, mengenai apa keuntungan yang didapat jika kita melakukannya. Jika keuntungan dari satu tugas tidak besar dibanding dengan resikonya, sebaiknya jika kita menampiknya.

Tetapi, jika memang tugas itu penting, mencari tahu apakah yang dapat kita kerjakan untuk berperan didalamnya tak perlu mengambil alih waktu untuk diri kita. Dengan cari tahu dan menimbang baik-buruknya satu keadaan, kita akan sanggup menguasainya.

2. Mengantisipasi sikap seseorang dan persiapkan tanggapan

Kemungkinan tidak seluruhnya orang akan sensitif pada social cues (kode sosial) saat seseorang mulai memperlihatkan beberapa sikap manipulatif, tetapi kita dapat latihnya. Amatilah gerak-gerik atasan, rekanan kerja, atau siapa saja yang minta pertolongan untuk kita.

Yakinkan jika mereka mempunyai argumen yang rasional mengapa memerlukan kontribusi, misalkan karena deadline project yang membuat kita harus gercep atau penekanan dari management berkaitan project tertentu. Jika argumennya karena hanya rekanan kita tidak ingin ribet, ingin berlibur, atau alasan-alasan tidak rasional yang lain, kamu dapat mengusung satu tangan dan menjelaskan, “No, thanks.”

3. Persiapkan pertanyaan memeriksa

Terkadang, sekalinya kita telah memperhatikan dengan jeli, masih tetap ada sela untuk beberapa orang untuk merekayasa kita. Ajukan pertanyaan yang memeriksa ialah satu langkah mengguncangkan beberapa orang manipulatif, karena beberapa pertanyaan itu akan ungkap kekurangan gagasan, minimnya penyiapan, dan pemikiran atas tindakan yang mereka kerjakan.

Misalkan, pertanyakan berkenaan kebenaran keadaan yang mereka claim, misalnya:

– Apakah sudah mereka punyai jalan keluar atas permasalahan itu?
– Ke siapa mereka konsultasi?
– Bagaimana mereka menghitung efektifitas jalan keluar itu?
– Apa opini mereka berkaitan jalan keluar yang lain bisa dibuktikan efisien?

Bila kamu telah ajukan pertanyaan, tetapi pertanyaanmu selalu dijauhi, ulang atau pakai kalimat lain. Bila jawaban mereka tetap sama, meninggalkanlah mereka dan konsentrasilah pada masalahmu sendiri.

4. Memperuncing Reaksi pada Beberapa orang Manipulatif

Saat atasan atau rekanan kerja manipulatif lakukan gaslighting atau mempersalahkan kita karena penampikan yang kita kerjakan, kita harus dapat mempersenjatai diri dengan reaksi yang tegas. Lontarkan argumen yang rasional kenapa kamu tidak sanggup lakukan tugas atau ikuti kegiatan tertentu. Tak perlu takut mereka geram atau mencaci-maki kepadamu, asal kamu punyai argument yang rasional.

5. Percayalah pada Kekuatanmu Sendiri

Last but not least, kamu harus optimis. Beberapa orang manipulatif akan mengguncangkan self esteem kamu dari beragam segi, dimulai dari menyangsikan kekuatanmu atau menebarkan isu yang tidak betul mengenai diri kamu. Bila kamu tidak optimis, kamu akan jatuh dalam perasaan bersalah yang luar biasa, rendah diri, dan terlihat tidak memiliki daya di mata mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengenal kemampuan diri dan pakailah untuk perkuat statusmu.

That’s all tips-nya, Teman. Bila kamu tidak dapat mengaplikasikannya, tidak ada apa-apa. Kita tidak harus langsung jadi asertif dalam waktu cepat, karena semuanya ada prosesnya. Mudah-mudahan tahun baru ini bawa peralihan positif untuk kita, cepat atau lamban, terhitung sikap yang lebih asertif.

 

kunjungi juga asukoe.id