Agen Travel Haji dan Umroh – Ada dua beribadah yang dapat dilaksanakan di Tanah Suci, yaitu haji dan umroh. Tetapi rupanya, dua beribadah itu berlainan. Nach, apa ketidaksamaan haji dan umroh?

Allah SWT dalam Quran surat Al Baqarah ayat 196 berfirman berkenaan perintah haji dan umroh

Arab: وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ

Latin: Wa atimmul-hajja wal-‘umrata lillah

Artinya: Dan sempurnakan lah ibadah haji dan umroh karena Allah

Ini Dia Ketidaksamaan Haji dan Umroh Lengkap dengan Dalilnya

Pemahaman haji dan umroh sendiri berlainan. Haji ialah rukun Islam ke 5, sesudah syahadat, salat, zakat, dan puasa. Secara bahasa, haji ialah sengaja atau ke arah dan berkunjung. Selanjutnya, secara syara’ haji ialah bertandang ke Baitullah untuk lakukan amalan thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah dan amalan yang lain untuk penuhi panggilan Allah dan berharap rida-Nya.

Sedangkan, umroh ialah ziarah dengan bahasa. Secara syara, umroh ialah menziarahi Kakbah untuk lakukan amalan-amalan, seperti thawaf dan sa’i atau berlari-lari kecil di antara bukit Safa dan Marwah sekitar 7x.

Ketidaksamaan Haji dan Umroh diambil dari ‘Fiqih Umroh’ kreasi Muhammad Ajib Lc, MA:

Hukum Haji dan Umroh

Hukum melakukan beribadah haji ialah harus untuk yang sanggup. Hal tersebut seperti dalam Quran surat Ali Imran ayat 97, Allah SWT berfirman

Arab: فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Latin: fīhi āyātum bayyinātum maqāmu ibrāhīm, wa man dakhalahụ kāna āminā, wa lillāhi ‘alan-nāsi ḥijjul-baiti manistaṭā’a ilaihi sabīlā, wa mang kafara fa innallāha ganiyyun ‘anil-‘ālamīn

Artinya: Di sana ada tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah ia. Dan (di antara) kewajiban manusia pada Allah ialah melakukan beribadah haji ke Baitullah, yakni untuk beberapa orang yang sanggup melangsungkan perjalanan ke situ. Barangsiapa memungkiri (kewajiban) haji, karena itu kenalilah jika Allah Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari semua alam.

Meskipun hukum haji ialah harus, dalam hadits kisah Muslim, Rasulullah SAW bersabda jika beribadah itu bisa dikerjakan jika seorang Muslim dalam keadaan mampu

“‘Hai manusia, Allah mengharuskan haji padamu, karena itu kerjakan lah haji itu.’ Seorang lelaki menanyakan, apa tiap tahunnya Rasulullah? Rasul termenung, sampai lelaki itu menanyakan 3x, lalu Nabi SAW menjawab, ‘Andai kukatakan harus tiap tahun karena itu dia jadi wajib dan kamu tidak sanggup melakukannya.’

Sedangkan, umroh sebagai sunnah atau mungkin tidak harus dikerjakan. Hal tersebut seperti dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Umroh sampai pada umroh kembali ialah penghapus dosa-dosa yang terjadi salah satunya. Dan haji mambrur tidak ada balasan untuknya kecuali surga.”

Menurut madzhab Hanafi dan Malik, umroh hukumnya sunnah. Sedangkan madzhab Asy-Syafi’i dan Ahmad, umroh hukumnya fardhu sesuai Quran surat Al Baqarah ayat 196. Tetapi, opini pertama (Hanafi dan Malik) yang lebih kuat.